Entah sudah keberapa kalinya kejadian ini terjadi dan terjadi lagi, pertengkaran dengan orang tua istri atau mertua terutama ibunya memang tidak dapat dihindari jika kita tinggal serumah dengan mereka. Ditambah sifat beliau yang memang suka memerintah, ingin selalu diperhatikan, ingin menang sendiri, tidak mau disalahkan dan maaf, kalau menurut saya sudah mengarah ke egois akut. Sebagai pihak yang menumpang tinggal, memang sudah seharusnya kita (saya, istri dan anak saya tercinta) mengalah, suatu hal yang sewajarnya kita mengikuti aturan yang dibuat oleh tuan rumah, suka ataupun tidak suka dengan aturan tersebut.
Jika pertengkaran tersebut hanya terjadi sekali atau dua kali dalam sebulan, masih bisa saya anggap wajar, tapi kalau terlalu keseringan, capek juga menghadapinya. Yang perlu ditekankan di sini, pertengkaran tersebut bukan saja terjadi antara saya dengan beliau, tetapi seringnya terjadi dengan istri saya (anaknya) dan ayah mertua (suaminya). Sampai dibuat terheran-heran, kok bisa tahan seumur hidup mereka menghadapi orang seperti itu.
Solusinya sebenarnya sudah jelas dan kita mampu, yaitu pisah rumah dengan mertua (orang tua). Rumah kita sudah punya, walaupun relatif kecil tapi ya cukuplah buat keluarga seperti kita yang baru punya satu anak, untuk ke depannya lahan yang kita punya masih bisa untuk dikembangkan menjadi rumah untuk 3 anak dan 2 orang tua ditambah mungkin satu pembantu rumah tangga. banyak keuntungan yang bisa didapat dari tinggal di rumah sendiri, seperti yang pernah dituliskan di blog ini mertua adalah sebagai berikut:
1. Lebih mandiri
Layaknya seorang ‘Pecinta Alam’ yang hidup survival di sebuah hutan, maka hal itu berlaku pula dalam hal kehidupan rumah tangga dimana sepasang suami-istri muda dituntut untuk dapat mengatur dan menjalani kehidupan barunya terlepas dari semang orang tua. Dengan melepaskan ketergantungan dengan orang tua, kita bisa cepat belajar jadi orang tua yang kuat, yang bisa digantungkan hidupnya nanti oleh anak-anak.
2. Sosialisasi dengan tetangga
Ketika keluarga kecil kita bisa bersosialisasi dengan tetangga dan lingkungan yang baru, hal itu merupakan nilai plus bagi kita, bersosialisasi dengan tetangga akan membuat kita menjadi lebih percaya diri, karena lepas dari bayang-bayang orang tua kita yang jelas sudah lebih dikenal di lingkungannya. Ini akan membawa kepercayaan diri kita untuk bergaul dan beraktivitas di masyarakat ke depannya.
3. Memahami perjuangan orang tua
Jadi kita bisa lebih bersyukur dan lebih sayang orang tua. berempati kepada orang tua dengan berada di posisi mereka. Dengan ini, kita bisa lebih bersyukur dan lebih ingat untuk mendo’akan mereka berdua.
4. Dituntut bisa dalam berbagai pekerjaan rumah.
Sang istri jadi dituntut masak tiap hari, sang suami harus punya kemampuan jadi tukang, dengan pindah ke rumah baru, entah itu mengontrak ataupun milik sendiri, suami-istri dituntut melaksanakan kerumahtanggan sendiri.
5. Semakin mencintai pasangan.
Tiap hari berduaan tanpa ada orang lain di satu rumah, tiap hari berkomunikasi, tiap hari beselisih, tiap hari ada hal baru yang diketahui dari pasangan, tiap hari ada inspirasi yang ditularkan ke pasangan, tiap hari melepas dan menerima rasa sayang, maka jangan heran kalau semakin cinta. Karena mencintai bukan hanya saja disebabkan karena hal-hal positif dari pasangan, kita juga harus memaklumi segala kekurangannya dan senantiasa saling memperbaiki diri.
6. Mengerti pentingya proses dan kerja keras
Kita tidak hanya lenggak-lenggok seenaknya menikmati hasil, sebagaimana orang tua menyediakan kita kamar di kala masih lajang, kendaraan, perabotan rumah tangga yang banyak. Itu bukan hasil instantyang mudah didapatkan, melainkan melalui perjuangan berpuluh-puluh tahun. Sedangkan jika masih tinggal sama orang tua, kita pasti masih memakai semua fasilitas itu Kalo udah tinggal sendiri, walau kulkas belum punya, mesin cuci tak ada, TVmasih di toko, motor pun masih nyicil, rumah apalagi. Namun, Kita jadi termotivasi untuk bekerja keras, bersabar dengan proses, danmenunda mrenikmati kesenangan untuk tujuan masa depan.
Semua hal itu dapat kita ibaratkan pada tunas pohon pisang. Bahawa tunas pohon pisang akan lebih cepat tumbuhnya serta cepat berbuah tatkala kita memisahkan tunas dari induknya. Penasaran? Silahkan coba sendiri ya! Artinya, seorang anak akan lebih cepat berkembang hidupnya kalau sudah tidak bergantung dengan orang tuanya. Alangkah bahagianya jika bisa menikmati masa-masa awal pernikahan dengan kemandirian.
Tapi tidak segampang itu kita pindah rumah, pertama, istri saya adalah seorang anak tunggal, jika kita pergi, mereka yang umurnya sudah lumayan renta hanya berdua ditemani pembantu. Keadaan ini diperkuat dengan kondisi ayah mertua yang menurut kami riskan sekali untuk ditinggal pergi. Setelah sekitar lima tahun yang lau mengalami sakit stroke, kondisi ayah istri saya masih belum bisa normal seperti sedia kala, jika kita tinggal pergi, takutnya jika terjadi apa-apa, siapa yang akan menanganinya. Kedua, jika kita tetap ngotot pindah rumah, tidak kebayang pertengkaran yang akan terjadi nantinya, hal kecilpun bisa ribut berhari-hari apalagi ini, sesuatu yang sangat besar pengaruhnya terhadap kedua belah pihak.