Showing posts with label curhatan. Show all posts
Showing posts with label curhatan. Show all posts

Sunday, January 15, 2017

Welcome 2017

Sudah telat sebenarnya untuk mengucapkan selamat tahun baru 2017, tidak terasa sudah tanggal 15 Januari saja sekarang, sudah menjalani setengah bulan. Tapi daripada tidak sama sekali, dengan ini saya mengucapkan selamat tahun baru 2017 semoga di tahun ini kita bisa lebih baik lagi..

Seperti biasa apabila memasuki  tahun baru, segala resolusi sudah dipersiapkan setidaknya agar kita merasa tenang menjalani hidup. Untuk tahun ini sepertinya sama saja resolusinya seperti tahun kemarin.

Tahun ini perusahaan yang sudah dibangun sejak tahun 2014 yang lalu harus bisa lebih dikenal lagi oleh orang banyak, bisa menerima pekerjaan yang lebih banyak lagi, serta membenahi manajemen dan administrasinya agar lebih rapi lagi.

Segitu saja harapan untuk tahun ini, semoga bisa dilaksanakan dengan lancar.

Monday, April 11, 2016

Saatnya Untuk Berhenti

Untuk kesekian kalinya keinginan berhenti bekerja di perusahaan ini menguat kembali. Bukan karena suasana kantor yang tidak enak walaupun memang kadang menyebalkan jika terjadi masalah kecil, harus rela mendengarkan ocehan - ocehan dari ruangan sebelah. Bukan juga karena hubungan antar karyawan yang kurang harmonis, karena sebagian besar dari mereka sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Bukan juga karena orderan yang sedang sepi, buktinya tiga bulan terakhir ini waktu makan siang saya semakin lama semakin singkat saja, mendesain, menghitung harga pokok, menyiapkan surat penawaran harga, sampai kadang ikut order ke vendor dan mengatur pelaksanaan kerja di lapangan.

Lebih ke faktor pengeluaran yang semakin membengkak dari tahun ke tahun sedangkan penerimaan yang stabil alias tidak naik-naik beberapa tahun terakhir ini. Lebih ke pembiayaan sekolah anak-anak nanti yang jika dihitung dengan besaran gaji sekarang, secara rasional tidak mungkin untuk terpenuhi. Yang paling utama, mewujudkan cita-cita mempunyai usaha sendiri jika tidak dimulai dari sekarang, akan semakin berat nantinya melihat umur yang sudah kepala 3.

Bukan saya tidak memikirkan nasib teman-teman yang lain apabila saya berhenti, karena nasib mereka bukan di tangan saya. Justru saya sedang memikirkan nasib saya bagaimana jika terus bekerja di perusahaan ini.

Wednesday, June 18, 2014

Galau

Seperti yang sudah saya tulis di postingan sebelumnya tentang rencana untuk jualan diecast hot wheels, ternyata tantangannya masih sama seperti rencana-rencana bisnis lainnya. Waktu untuk membenahi situs, membangun networking dan mulai mengenalkan barang dagangan saya ini sangat sedikit sekali.

Baru bisa nongkrongin komputer jam 11 malam, setelah anak-anak tidur, karena jika mereka masih bangun sudah bisa dipastikan komputer akan dikudeta oleh mereka. Rengekan ingin main games atau sekedar nonton film anak-anak di PC sulit sekali saya tolak. Selesai kerja biasanya jam 1.00 pagi atau setengah dua, kadang jam 12.00 malam kalau sudah tidak kuat lagi menahan kantuk.

Bingung juga nyiasatinnya harus seperti gimana. 

Monday, March 3, 2014

Welcome Khalifa Wangsa Adipradja

Alhamdulillah pada hari Senin tanggal 3 Maret 2014 yang lalu (sudah hampir sebulan lamanya hehehe..) telah lahir anak kedua kami di Rumah Sakit Bersalin Emma Poeradiredja Jalan Sumatera 46, Bandung.
Seorang bayi laki-laki yang lahir dengan sempurna melalui persalinan normal seperti kakaknya dulu. Bayi yang tadinya akan diberi nama Adipradja Khalifa Prawira Manggala, tetapi karena katanya nama tersebut terlalu berat, akhirnya kami memutuskan untuk memberi nama Khalifa Wangsa Adipradja.
Ya udah segini dulu nulisnya, hari-hari ke depan bakalan disibukkan oleh tangisa si kecil yang minta susu dan si besar yang nyari perhatian, semoga bisa berlaku adil buat mereka berdua, serta kepada bundanya juga..

Thursday, January 2, 2014

Selamat Tahun Baru 2014

Heuheu, sudah telat mungkin untuk mengucapkan selamat tahun baru 2014, tapi ga apa-apa lah daripada ngga sama sekali. Seperti biasa setiap tahun baru selalu diiringi dengan resolusi.
Untuk tahun kuda ini resolusinya cukup menjadi ayah yang lebih baik bagi anak-anak saya, menjadi suami yang lebih baik bagi istri saya tercinta, menjadi anak yang lebih baik bagi orang tua saya, menjadi saudara yang lebih baik bagi adik-adik saya dan menjadi lebih bertaqwa lagi bagi pencipta Saya.
Untuk pekerjaan, sudah saatnya di tahun 2014 ini saya memulai usaha sendiri lagi, walaupun pekerjaan sekarang belum bisa saya lepaskan seluruhnya. Insyaallah bulan januari ini website nya rampung dan bisa segera dijalannkan. Mudah-mudahan ini jalannya untuk menuju kemapanan finansial secara mandiri. Amiin

Wednesday, May 22, 2013

Masih Banyak Pekerjaan

Rencananya mau membuka lagi website kadonikah.com yang sempat tidak aktif selama beberapa tahun karena kesibukan di kantor. Domain memang sudah diperpanjang secara otomatis, hosting sudah dibeli, tapi sampai saat ini masih belum diapa-apain, bahkan tampilannya pun masih asli theme bawaan Wordpress.

Ditambah lagi ruddysign.com yang juga ingin kembali online. Kasusnya pun sama, domain dan hosting sudah lengkap, tampilan dan isi masih belum ada. Untuk konten yang satu ini harus hati-hati dalam penyajiannya, soalnya berhubungan dengan uang yang tidak sedikit (bingung? jangan tanya, tidak akan saya jawab,, hehehe).

Sebenarnya masih ada dua website lagi selain yang saya tuliskan di atas, satu milik teman saya yang minta didesainkan tampilan websitenya tentang jajanan dan oleh-oleh Bandung. Satu lagi website untuk merintis usaha saya pribadi nantinya, jika saya keluar dari pekerjaan sekarang. Semuanya belum sempat saya kerjakan berhubung padatnya kerjaan di kantor dan mengasuh si Jalu yang masih butuh extra perhatian dari orang tuanya.

Wednesday, March 27, 2013

Banjir

Sekarang jam 03.30 pagi dengan kondisi badan yang lemas tetapi masih belum mengantuk. Sekitar jam 11.30 malam tadi hujan turun lebat sekali plus petir yang suaranya membuat suasana malam makin menyeramkan saja.

Saking lebatnya, sampai-sampai air sungai deket rumah meluap dan banjir pun tidak bisa dihindarkan, selama 3 tahun lebih tinggal di sini, baru kali ini air sampai masuk ke ruang tengah rumah.

Terpaksa lah kita semua kerja bakti mengeluarkan air banjir dari rumah ke jalan dan baru selesai tadi. Sekarang sudah cuci tangan dan kaki, badan sudah diolesi minyak kayu putih biar ga masuk angin, sebatang rokok dan segelas kopi. Buka komputer terus online dulu bentar sekalian memperpanjang hosting salah satu klien.

Sudah beres semuanya, kopinya dah habis, rokoknya tinggal puntung doang, saatnya menuju kasur memeluk istri tercinta yang dah pules daritadi tak terpengaruh dengan banjir di luar hehehe. Selamat tidur semuanya.

Tapi kok kayanya hujan lagi ya di luar, lumayan gede lagi. Mudah-mudahan tidak sampai kaya tadi lagi. Amiin.

Thursday, March 14, 2013

Singgah Bentar

Sudah lama belum sempat nulis lagi di sini, kerjaan di kantor tambah banyak aja, kebetulan bisa nyuri waktu online bentar malam ini, si Jalu lagi main ma bundanya.

Rencana mau nulis tentang dunia advertising pun ketunda lama sekali, maafkan, saya masih berkutat dengan usulan desain, ngitung harga buat SPH dan mendengar omelan sang bos tiap harinya...

Mudah-mudahan ada keberanian dan kesempatan serta peluang untuk bisa usaha mandiri dan mempunyai banyak waktu buat keluarga tercinta.

Sekian dan terima kasih... mau maen lagi ma si Jalu... 

Wednesday, October 17, 2012

Pisah Rumah dengan Mertua, Keuntungan dan Kerugiannya

Entah sudah keberapa kalinya kejadian ini terjadi dan terjadi lagi, pertengkaran dengan orang tua istri atau mertua terutama ibunya memang tidak dapat dihindari jika kita tinggal serumah dengan mereka. Ditambah sifat beliau yang memang suka memerintah, ingin selalu diperhatikan, ingin menang sendiri, tidak mau disalahkan dan maaf, kalau menurut saya sudah mengarah ke egois akut. Sebagai pihak yang menumpang tinggal, memang sudah seharusnya kita (saya, istri dan anak saya tercinta) mengalah, suatu hal yang sewajarnya kita mengikuti aturan yang dibuat oleh tuan rumah, suka ataupun tidak suka dengan aturan tersebut.

Jika pertengkaran tersebut hanya terjadi sekali atau dua kali dalam sebulan, masih bisa saya anggap wajar, tapi kalau terlalu keseringan, capek juga menghadapinya. Yang perlu ditekankan di sini, pertengkaran tersebut bukan saja terjadi antara saya dengan beliau, tetapi seringnya terjadi dengan istri saya (anaknya) dan ayah mertua (suaminya). Sampai dibuat terheran-heran, kok bisa tahan seumur hidup mereka menghadapi orang seperti itu.

Solusinya sebenarnya sudah jelas dan kita mampu, yaitu pisah rumah dengan mertua (orang tua). Rumah kita sudah punya, walaupun relatif kecil tapi ya cukuplah buat keluarga seperti kita yang baru punya satu anak, untuk ke depannya lahan yang kita punya masih bisa untuk dikembangkan menjadi rumah untuk 3 anak dan 2 orang tua ditambah mungkin satu pembantu rumah tangga. banyak keuntungan yang bisa didapat dari tinggal di rumah sendiri, seperti yang pernah dituliskan di blog ini mertua adalah sebagai berikut:

1. Lebih mandiri
Layaknya seorang ‘Pecinta Alam’  yang hidup survival di  sebuah hutan, maka hal itu berlaku pula dalam hal kehidupan rumah tangga dimana sepasang suami-istri muda dituntut untuk dapat mengatur dan menjalani kehidupan barunya terlepas dari semang orang tua. Dengan melepaskan ketergantungan dengan orang tua, kita bisa cepat belajar jadi orang tua yang kuat, yang bisa digantungkan hidupnya nanti oleh anak-anak.

2. Sosialisasi dengan  tetangga
Ketika keluarga kecil kita  bisa bersosialisasi dengan tetangga dan lingkungan yang baru, hal itu merupakan nilai plus bagi kita, bersosialisasi dengan tetangga akan membuat kita menjadi lebih percaya diri, karena lepas dari bayang-bayang orang tua kita yang jelas sudah lebih dikenal di lingkungannya. Ini akan membawa kepercayaan diri kita untuk bergaul dan beraktivitas di masyarakat ke depannya.

3. Memahami perjuangan orang tua
Jadi kita bisa lebih bersyukur dan lebih sayang orang tua. berempati kepada orang tua dengan berada di posisi mereka. Dengan ini, kita bisa lebih bersyukur dan lebih ingat untuk mendo’akan mereka berdua.

4. Dituntut  bisa dalam berbagai pekerjaan rumah.
Sang istri jadi dituntut masak tiap hari, sang suami harus punya kemampuan jadi tukang, dengan pindah ke rumah  baru, entah itu mengontrak ataupun milik sendiri, suami-istri dituntut melaksanakan kerumahtanggan sendiri.

5. Semakin  mencintai pasangan.
Tiap hari berduaan tanpa ada orang lain di satu rumah, tiap hari berkomunikasi, tiap hari beselisih, tiap hari ada hal baru yang diketahui dari pasangan, tiap hari ada inspirasi yang ditularkan ke pasangan, tiap hari melepas dan menerima rasa sayang, maka jangan heran kalau semakin cinta. Karena mencintai bukan hanya saja disebabkan karena hal-hal positif dari pasangan, kita juga harus memaklumi segala kekurangannya dan senantiasa saling memperbaiki diri.

6. Mengerti pentingya proses dan kerja keras
Kita tidak hanya lenggak-lenggok seenaknya menikmati hasil, sebagaimana orang tua menyediakan kita kamar di kala masih lajang, kendaraan, perabotan rumah tangga yang banyak. Itu bukan hasil instantyang mudah didapatkan, melainkan melalui perjuangan berpuluh-puluh tahun. Sedangkan jika  masih tinggal sama orang tua, kita pasti masih memakai semua fasilitas itu Kalo udah tinggal sendiri,  walau kulkas belum punya, mesin cuci tak ada, TVmasih di toko, motor pun masih nyicil, rumah apalagi. Namun,  Kita jadi termotivasi untuk bekerja keras, bersabar dengan proses, danmenunda mrenikmati kesenangan untuk tujuan masa depan.

Semua hal itu dapat kita ibaratkan pada tunas pohon pisang. Bahawa tunas pohon pisang akan lebih cepat tumbuhnya serta cepat berbuah tatkala kita memisahkan tunas dari induknya. Penasaran? Silahkan coba sendiri ya! Artinya,  seorang anak akan lebih cepat berkembang hidupnya kalau sudah tidak bergantung dengan orang tuanya. Alangkah bahagianya jika bisa menikmati masa-masa awal pernikahan dengan kemandirian.

Tapi tidak segampang itu kita pindah rumah, pertama, istri saya adalah seorang anak tunggal, jika kita pergi, mereka yang umurnya sudah lumayan renta hanya berdua ditemani pembantu. Keadaan ini diperkuat dengan kondisi ayah mertua yang menurut kami riskan sekali untuk ditinggal pergi. Setelah sekitar lima tahun yang lau mengalami sakit stroke, kondisi ayah istri saya masih belum bisa normal seperti sedia kala, jika kita tinggal pergi, takutnya jika terjadi apa-apa, siapa yang akan menanganinya. Kedua, jika kita tetap ngotot pindah rumah, tidak kebayang pertengkaran yang akan terjadi nantinya, hal kecilpun bisa ribut berhari-hari apalagi ini, sesuatu yang sangat besar pengaruhnya terhadap kedua belah pihak.

Friday, October 5, 2012

Semakin Sibuk

Hari ini ada rapat di kantor, agendanya memantapkan lagi proses kerja dari mulai menerima pekerjaan sampai ke penagihan. Memang rapat ini seharusnya diadakan beberapa bulan ke belakang, dimana sudah tidak ada lagi keteraturan dalam bekerja, yang bisa order barang bisa siapa saja tanpa adanya sebuah bukti tertulis, pas bagian datang tagihan seminggu atau sebulan kemudian, bingung tagihannya untuk pekerjaan yang mana, alasannya cuma satu, lupa...

Hari ini ditegaskan lagi alur kerjanya seperti bagaimana, dan hasil akhirnya, saya yang kebagian paling banyak kerjaan. Mulai dari menyiapkan desain, menghitung harga pokok, menentukan harga jual, sampai ke persiapan dokumen untuk pengerjaan suatu proyek, baru diserahkan ke bagian pemesanan dan bagian lapangan.

Kalau kerjaannya satu atau dua dalam sehari sih ya ga masalah, masih bisa kehandle, ini kerjaan bisa sampai 10an per harinya, sampai bingung ngatur waktunya.

Tapi ya buat apa mengeluh, kerjakan saja sesuai hasil rapat tadi, kalau memang ternyata tidak sanggup kan tinggal bilang saja, sekarang mah dicoba aja dulu.

Kita lihat seberapa mampu saya mengerjakan tugas baru saya ini.

Friday, September 21, 2012

Cinta Laki-laki Biasa

Dulu salinan cerita ini ada di blog saya, sekarang saya masukkan lagi di sini, siapa tau berguna bagi temen-temen sekalian yang lagi galau berat, hehehe...

Cinta Laki-laki Biasa
Karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen Cinta Laki-laki Biasa
MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
"Kamu pasti bercanda!" Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka ya ng ompong. Semua menatap Nania!
"Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
"Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!"
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh seleidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?"
Nania terkesima.
"Kenapa?"
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau! Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.
"Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
"Tapi kenapa?"
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
"Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!"
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.

***
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
"Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"
"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!"
"Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!"
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu."
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup unt uk hidup senang.
"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.
"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang."
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.
"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"
Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
"Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!"
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukka n tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.
"Baru pembukaan satu."
"Belum ada perubahan, Bu."
"Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.
"Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."
Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset. "Masih pembukaan dua, Pak!"
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
"Bang?"
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
"Dokter?"
"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."
Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
"Pendarahan hebat."
Rafli membayangkan sebuah sumber a ir yang meluap, berwarna merah.
Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!
Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker. Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah boleh membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli. Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izi n penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
"Nania, bangun, Cinta?"
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
"Nania, bangun, Cinta?"
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan mengge ndong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta. Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
"Baik banget suaminya!"
"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"
"Nania beruntung!"
"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."
"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya . Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Thursday, September 13, 2012

Arti Nama Effendi

Catatan: Sesuai dengan tulisan saya sebelumnya, ini adalah tulisan saya yang ditulis pada tanggal 6 Januari 2008.

Kemarin saya iseng mencari arti kata nama saya di Wikipedia, the free encyclopedia. Seumur hidup, saya tidak begitu mengetahui arti nama saya yang sebenarnya, jadi untuk lebih meyakinkan diri sendiri, mulailah saya mengetikkan effendi di kolom search mereka.

Arti kata effendi ini di ambil dari bahasa turki, untuk novel Cyberpunk. Effendi atau Efendi (bahasa turkinya efendi) adalah sebuah penamaan gelar di budaya turki yang berarti Tuan atau Ahli sesuatu. Gelar ini sama halnya dengan sebutan Sir di Inggris. Gelar ini biasanya ditambahkan sesudah nama pribadi dan umumnya diberikan kepada orang yang mendalami suatu profesi.

Pada masa pemerintahan Ottoman, effendi adalah sebutan paling umum terhadap seseorang setelah nama pribadinya. Effendi juga dapat diartikan sebagai seorang pria yang terdidik ("educated gentleman").
Di Afrika, effendi adalah level tertinggi yang bisa didapat oleh seorang keturunan afrika dalam pemerintahan jajahan kerajaan inggris. Sedangkan di Indonesia dan Malaysia, effendi lebih umum digunakan sebagai nama seseorang.

Nama effendi juga melambangkan seseorang yang mempunyai pendidikan yang tinggi atau memiliki status sosial yang tinggi di daerah mediterania timur atau negara-negara Arab. Effendi masih digunakan sebagai gelar kehormatan di Mesir dan Turki, dan digunakan juga sebagai sumber dari tanda tanya (????), misalnya: "effendim?" yang dalam bahasa Turki efendim merupakan cara sopan untuk mengatakan "apa?" ("pardon me?")

Wah ternyata bagus ya arti nama saya, selama ini saya selalu menganggap arti effendi itu adalah berhati dua, itupun menurut kamus elektronik inggris-indonesia, hehehe. Ya... semoga saja arti nama itu bisa mencerminkan pribadi saya yang sebenarnya, dapat membimbing diri saya menjadi sesuai dengan namanya. Amin

Menemukan Arsip Blog mulai dari Tahun 2007

Malam ini sebenarnya tidak ada niat untuk membuka-buka external hardisk backup data saya yang dulu, tetapi karena ada teman kantor yang meminta untuk dikopiin file-file yang berbau esek-esek hehehe, mau tidak mau yan harus nyari-nyari lagi file-file tersebut.

Setelah beres dengan request temen saya yang satu itu, iseng ngebuka lagi backupan data yang dulu, eh ternyata nemu lagi tulisan-tulisan zaman dulu ketika masih bujangan. Karena penasaran membuka salah satu tulisan secara acak, jadi ketawa-ketawa sendiri campur sedih juga, seperti itu ka keadaan saya dulu. Loser banget hehehe, but that's my life !! Semua yang terjadi dulu menjadi pelajaran di masa sekarang dan yang membentuk saya hari ini. Saya jalani hidup ini tanpa menyesali keadaan saya yang dulu.

Kalau ada waktu senggang saya akan coba masukkan kembali semuanya di sini.Bingung juga sih menuliskan kembalinya akan seperti apa, banyak tulisan yang tidak saya kasih tanggal ditulisnya. Mungkin ya saya lihat di "date modified"n ya saja, ga apa-apa lah beda-beda dikit mah.

Friday, August 10, 2012

Ramadhan Tahun Ini

Seperti biasanya setiap memasuki bulan Ramadhan sebagian besar umat muslim menjalankan ibadah shaum dan berusaha untuk meningkatkan ibadah mereka semaksimal yang mereka mampu. Ada yang berusaha agar sholat lima waktunya tidak terlewatkan, ada yang berusaha dengan memperbanyak infaq dan shodaqohnya ada juga yang memperbanyak amal ibadah serta menahan hawa nafsunya.

Ada juga yang mendekatkan lagi tali shilaturahmi nya dengan kerabat-kerabat yang mungkin di bulan-bulan lainnya susah banget untuk ketemuan dengan cara mengadakan acara yang sering disebut buka bersama.

Dan Ramadhan tahun 1433 Hijriah ini, sepertinya akan menjadi Ramadhan pertama saya tanpa adanya acara ngumpul bareng teman-teman untuk berbuka puasa. Hampir semua teman baik teman SMP, SMA dan Kuliah sudah hampir putus kontak. Padahal kalau dipikir-pikir, teknologi yang semakin canggih saat ini sehharusnya lebih memudahkan untuk menjalin komunikasi dengan mereka. Suka jadi bingung sendiri, sebenarnya kenapa kok bisa sampai hilang informasi tentang mereka ya.

Apa mungkin karena terlalu sibuk dengan pekerjaan di kantor ? Nggak juga, buktinya sekarang saya masih bisa menulis blog ini. Atau mungkin karena beres ngantor, waktu saya digunakan hanya untuk ngurus anak tercinta saya si Jalu ? Nggak juga, toh masih punya waktu setelah si jalu tidur malam sekitar jam 11 malem ke atas.

Atau mungkin terlalu capek? Mungkin juga sih, tidak mungkin kan waktu 24 jam semuanya saya habiskan untuk beraktifitas. Bagaimana cara mengakalinya ya? Mungkin seharusnya saya mencontoh istri saya. Saya perhatikan dia makin asik sendiri dengan Blackberry nya.

Dulu sih saya punya Blackberry, dan bisa tahu segala informasi tentang teman-teman baik itu melalui Blackberry Messenger (BBM), Group maupun dari Whatsup! tapi sekarang Blackberry nya saya kasiin ke istri karena punya dia rusak.

Mudah-mudahan THR tahun ini lebih besar dari tahun kemarin dan cukup untuk beli Blackberry yang baru biar bisa chatting lagi bareng teman-teman, hehehe..

Tuesday, June 12, 2012

Long Time No See

Sudah lumayan lama tidak sempat lagi nulis di blog ini, pekerjaan di kantor buanyaaaak banget dan semuanya harus segera diselesaikan. Jadi waktu jam kantor dari jam 08.30 sampai jam 16.00 dipotong watu istirahat full digunakan untuk mendesain, menghitung harga dan membuat surat penawaran.

Di rumah juga tidak bisa meluangkan watu untuk menulis, sepulang kerja langsung ngasuh anak sampai dia tidur sekitar jam 22-an. Beres ngasuh malah sayanya yang sudah tidak ada tenaga lagi buat nyalain laptop, konek ke internet dan menulis blog. Cape banget.

Sekarang juga sebenarnya masih disibukkan oleh pekerjaan yang selalu numpuk ini, tapi ya mumpung si bos ga ada, disempetin nulis di blog sepatah dua patah kata, lumayan lah daripada ga pernah diupdate.

Berita terbaru ya seputar kolam ikan koi di rumah Bojongsoang sudah selesai pengerjaannya, sekarang sudah diisi air dan beberapa ikan koi murah untuk percobaan. Ini foto-foto terbarunya :

kolam ikan koi setelah diberi airuntuk tes kebocoran

ikan penghuni kolam, baru dua ekor koi

kolam ikan koi setelah diberi pagar, biar anak saya ga kecebur

Friday, April 20, 2012

Maafkan Saya Ikan Koi

Sudah dua minggu rencana untuk mengecat kolam ikan koi di rumah Bojongsoang tertunda. Si Jalu, anak pertama saya, setelah ulang tahun malah jadi sakit. Sepertinya karena dia sudah mulai mau bisa ngomong dan jalan serta giginya tumbuh, ditambah lagi cuaca di Kota Bandung ini lagi jelek-jelekya, pagi-pagi sampai siang panasnya minta ampun pas sore sampai malam gantian hujan gede banget plus suhu yang sangat dingin, jadinya batuk-batuk dan pilek.

Selama si Jalu sakit ya otomatis saya tidak bisa kemana-mana, nungguin anak saya tercinta itu tersiksa dengan sakitnya. Tapi alhamdulillah sekarang sih sudah mendingan, sudah ketawa-ketawa lagi, sudah tidak mau diam lagi, jalan kesana-kemari, hehehe. Gantian Bunda ma Ayahnya yang kayanya bakalan sakit sekarang, hidung sudah mulai meler-meler hehehe.

Kembali ke kerjaan membereskan kolam ikan koi, sebenarnya sih sudah bisa dikatakan selesai, hanya saja saya khawatir kalau kolamnya ada yang bocor, soalnya belum sempat saya tes dengan diisikan air. Rencananya mau saya cat dulu dengan cat khusus untuk kolam, kalau tidak salah sih namanya Pond Pounding, warna hitam dan katanya sih kaya karet gitu, rada-rada punya kelenturan. Harganya lumayan mahal dibanding cat biasa, tapi ya namanya juga buat jaga-jaga dan biar puas di hati, ga apa-apa lah mahal sedikit mah.
Kolam koi nya sudah jadi, tinggal dicat saja


Bisa dikatakan selesai karena memang sebenarnya sudah bisa diisi air dan dimasukkan ikan koi nya. Kolam koi punya orangtua saya juga toh ngga dicat sama sekali, cuman warna semen aja, tapi kan koi nya masih bisa hidup dengan bahagia, gede-gede lagi ukurannya.

Nanti hari Sabtu rencananya mau ke rumah Bojongsoang, ngecat kolam dibantu ma Mang Dadang sekalian beres-beres rumah ma ngecek sisa token listrik, kayanya dah mau habis.

Jadi, maafkan saya ikan koi, kalian belum bisa menikmati kolam baru kalian, sabar ya, mudah-mudahan bulan depan kalian sudah bisa bercanda dengan ikan komet di rumah kalian yang baru, hehehe.

Monday, April 2, 2012

Selamat Ulang Tahun yang Pertama Anakku

Tanggal 2 April setahun yang lalu, begadang di Rumah Sakit Bersalin nemenin istri melahirkan buah hati pertama kami tercinta, Effan Fakhry Jalu Munggaran. Ngga kerasa setahun sudah berlalu, semoga menjadi anak yang sholeh, berbakti kepada orang tuanya, sehat jasmani dan rohaninya, berguna bagi sesamanya dan diberikan kebahagiaan di dunia maupun di akherat kelak.

Sebagai orang tua, hanya bisa membimbing, mendoakan, dan selalu mendukung apa yang anak cita-citakan. Semoga segala mimpi besar mu nanti dapat terwujud. Amiin.

Saturday, March 31, 2012

Membuat Kolam Ikan Koi - The End

Hari Minggu ini rencananya mau menyelesaikan pembuatan kolam koi di belakang rumah yang sempat tertunda satu kali pertemuan karena tukang temboknya ga bisa datang. Sebenernya sih cuman tinggal sedikit lagi, tinggal melapis tembokan dengan semen plus damdex, lalu membuat sekat untuk filter kolam. Segitu aja, hanya aja karena tidak punya keahlian jadinya bergantung ke tukang tembok.

Mudah-mudahan si tukang temboknya bisa datang besok, janjinya sih pagi-pagi sekitar jam 8an. Mudah-mudahan bisa selesai semuanya satu hari saja, biar tidak terlalu membengkak biayanya. Jadi pas anak saya ulang tahun yang pertama, kolam koi minimal sudah keliatan bentuknya, walaupun isinya cuman air saja karena setelah selesai dibuat, kolam koi harus direndam dulu selama minimal satu minggu.

taman sudah jadi tinggal kolam koi nya sedikit lagi


Untuk taman disamping kolam, sudah selesai dikerjakan oleh saya sendiri minggu kemaren, bekerja seharian penuh. Sudah keliatan rapi tinggal nunggu rumput tumbuh, soalnya masih keliatan jarang-jarang. Minggu ini kayanya sudah rapat pertumbuhan rumputnya.

Saturday, March 24, 2012

Malam Minggu di Jurang

Long weekend pada Bulan Maret ini saya habiskan dengan liburan di rumah orang tua di Jl. Jurang. Sudah lama sekali tidak menginap di tempat di mana saya dibesarkan ini. Acara menginap ini lebih spesial lagi dengan ikut menginapnya Jalu, anak saya.

Sang istri tidak bisa ikut karena dia bersama teman-teman kantornya liburan ke Batam. But its ok, kasian istri saya butuh refreshing setelah lelah dan stress dengan thesis dan kerjaannya. Semoga dengan liburannya ini dia bisa lebih semangat lagi menyelesaikan studinya.

Akhirnya bisa merasakan lagi masakan rumah yang sudah lama tidak dikecap lidah. Datang pada hari Jumat setelah jumatan langsung disuguhi nasi bakar plus pete, cumi goreng kering dengan sambel goreng pedas khas rumah. Nikmatnya terasa sampai ke hati..hehehe. Makan malam dengan iga bakar saus barbeque, ditutup dengan puding jagung, wuiih maknyusss..

Waktu rasanya cepet banget berlalu, ga kerasa malam minggu ini sudah mau berakhir lagi, besok sudah harus packing lagi, siap-siap buat kembali ke rumah di Buahbatu, ngejalanin lagi rutinitas sehari-hari...ya apa mau dikata, memang harusnya seperti itu, jalanin aja dengan ikhlas. Tapi dengan liburan ini semoga saja bisa lebih fresh menjalaninya, semoga bisa lebih enjoy menyikapinya.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Tuesday, March 20, 2012

Hidup itu Melayani

Sambil menunggu istri ngurus thesisnya, dengerin radio B 95,60 fm. Acaranya tentang breaking the habit oleh seorang motivator Agung Fatwa. Tema kali ini adalah hidup itu melayani, artinya ketika kita bangun tidur pagi hari, senyumlah sekitar kira-kira 60 detik sampai kita benar-benar sadar. Setelah kita sadar tanyalah kepada diri kita sendiri, siapa yang akan kita layani hari ini.

Ketika sudah melayani berarti kita sudah menjalani hidup. Sebagai staff di kantor sudah seharusnya kita melayani atasan kita, seringkali kita bertanya mau apa lagi si boss perasaan kerja kita sudah maksimal tetapi tetep aja ada yang salah, sebenarnya kita bukan pada posisi untuk bertanya pada saat itu, posisi kita adalah untuk membuat bos kita puas dengan kerja kita sesuai kriteria dia, jadi berilah pelayanan terbaik kita kepada boss kita itu sesuai dengan yang dia inginkan.

Si boss juga jika memang menyadari bahwa hidup itu melayani dia akan melayani bawahannya sesuai dengan posisinya, setidaknya dengan mengucapkan terima kasih, kalau gaji tiap bulan itu sih sudah pasti.

Hhmmm... Apa lagi ya? Tadi dengerinnya sepotong-sepotong sih, nemenin istri ngeprint dulu, ya segini aja dulu deh. Lain kali kalau inget saya update lagi tulisan ini. Kayanya sih ada yang salah dari tulisan saya di atas, mohon maaf kalau saya salah mengartikannya. Walaupun bener saya yakin yang baca tetep aja masih bingung karena dangkal banget tulisannya belum dibahas secara mendalam. Nanti deh kalau ada waktu kosong lagi ya.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone